Dalam Dekapan Matahari dan Rembulan
Orangtua adalah payung, melaluinya anak-anak mendapatkan keteduhan dan perlindungan dari sengat panas surya dan basah air hujan. Anak-anak berpegang gagang, melenggang mengejek basah tanah. Dalam dekap kasih orangtua, anak meringkuk pulas. Mengacuhkan geram halilintar. Anak-anak tidak perlu mencari ketenangan di tempat lain, karena kekuatan dan kelembutan orangtua cukup hangat untuk mendekap mereka.
Orangtua itu matahari dalam ketegasannya dan rembulan dalam kelembutannya. Kerudung gelap gemetar oleh sinarnya. Setiap ruang benderang oleh kehadirannya. Tidak ada yang ditutupi. Semua helai hidup dibiarkan tersingkap. Namun ia juga rembulan yang memendarkan kelembutan. Anak-anak melesatkan kaki dalam dendang dolanan. Bersama dengan irama cahayanya yang menggoda. Bersahabat.
Orangtua adalah pujangga, merias kata dengan imaginasi, meliak liuk membentuk gambaran diri. Dihembuskan dalam lempeng hati. Lahirlah para mardi (baca: anak) yang berbudi. Setiap gerak anak, setiap sembur tuturnya, terlihat asap-asap yang dahulu keluar dari tungku bapa ibunya. Sungguh, anak adalah buku sastra karya orangtua.
Orangtua adalah petani kehidupan. Mereka menaburkan benih Illahi dalam diri keturunannya. Dicarinya sepetak tanah. Gembur. Subur. Dicangkul, dipupuk, disiangi dengan keringat kesabaran. Benih ditaburkan. Aha! Benih itu tumbuh di sepinya malam. Esok bersolek mekar, rimbun menyumbangkan manis dan aroma.
Orangtua adalah malaikat yang merelakan sayapnya patah. Ditempelkan di bahu anak-anak, agar mereka terbang melampaui tinggi yang pernah dijangkaunya.
Ayah, ibu, sepatutnya kamipun memberi engkau tawa melalui hidup yang engkau tanamkan. Terimakasih ayah. Terimakasih ibu. Kubawakan sekarung hormat dan doaku padamu. Inilah hidupku yang telah engkau dandani.
copy from:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar